Selasa, 08 Maret 2011

MEDITASI

Ketika aku malas bermeditasi,
Aku pun membujuk tubuh dan pikiran ini,
Kukatakan kepadanya...
"Ayo Sobat! Kita istirahat dengan bahagia,
bukankah ini waktu dan cara terbaik...
untuk kebersamaan kita, agar kita selaras?"
Hmm..
biasanya "sih" mereka nurut.
#8 Maret 2011

#8 Maret 2011. Saya merasa bahwa melatih diri untuk menjadi terkendali, melatih pikiran dengan berkesinambungan, bukanlah diperuntukkan untuk orang-orang malas (seperti saya). Seni pengendalian ini salah satu caranya adalah dengan meditasi..terlepas dari perdebatan akan artinya - walau saya bukanlah ahli meditasii - namun saya memberanikan diri untuk berbagi rasa bahwa meditasi mampu membuat kita lebih baik. Walaupun sudah tahu demikian, kadang rasa malaspun datang menerpa, nah..ketika rasa malas menerpa saya selalu mengafirmasi diri dengan kata-kata itu, karena saya tahu sehari tidak meditasi akan berbahaya bagi saya yang menjalani hari. Saya pun menulis  list/daftar"kenangan" positif apa yang dirasa, kembali untuk memotivasi diri., setiap malas datang saya baca lagi daftar apa yang rasakan, saya kenang kebahagiaan , kedamaian, welas asih, dan daya "pembeda" saat-saat  meditasi dan setelah meditasi, dan bagaimana kemudian hal ini berpengaruh pada 1 hari. Saya menyebutnya 15 menit yang mujarab. Untuk ukuran saya yang malas, hal-hal yang tampak sederhana ini (list kenangan) cukup memotivasi diri. Hari tanpa meditasi adalah hari yang berbahaya bagi saya.


Jumat, 04 Maret 2011

SYAIR NYEPI


Saat Nyepi
Kuingin sejenak menyepi
dari hiruk pikuk pikir yang kadang berapi
Mogalah indrya hilang kuasa dalam sepi
Terganti kesadaran kasih mekar sebar ke setiap tepi
Hanya mencintaiNYA seperti para Gopi

#4 Maret 2011.Selamat menjalankan bratha penyepian bagi para Sahabat.

Rabu, 02 Maret 2011

MAHASHIVARATRI

Om Namah Shiva ya Om Namah Shiva ya Om Namah Shiva ya Om Namah Shiva ya Om Namah Shiva ya Om Namah Shiva ya Om Namah Shiva ya Om Namah Shiva ya Om Namah Shiva ya Om Namah Shiva ya  Om Namah Shiva ya


Selamat bersadhana di Mahashivarati keramat ini,
malam tergelap untuk dunia,
bersadhana konon seperti naik gunung,
makin tinggi makin sejuk
udara segar... bersih dan ah.. lapang
sejuk pemikiran, perkataan , perbuatan
Ataupun seperti menyelam di kedalaman
makin dalam makin hening dan tenang
tak ada riak, tak ada arus
Semoga kita terhubung dengan kesejukan di dalam diri
Semoga kita merasakan keheningan di kedalaman hati
Hari Om Tat Sat Namah Shiva ya
#2 Maret 2011

#Hari ini serempak di seluruh dunia, umat Hindu merayakan Mahashivaratri. Mengumandangkan pujian kepadaNYA.

Rabu, 16 Februari 2011

TAMBAH BOROS KARENA NAIK GAJI PLUS GENGSI ?

Mari menjaga kesehatan gigi
dengan gosok gigi dan maem bergizi

Hati-hati pengeluaran jadi tinggi
karena naik gaji tambah gengsi.

#Coretan 16 Feb 2011. Seperti pepatah Bali "gede ombak, gede angine" , naik gaji, tanpa diikuti kebijaksanaan, pengeluaran pun ikut naik. Dan cenderung kemudian kebablasa karena gengsi, "Aku kerja sebagai bla bla bla harus berpenampilan bermerk bla bla bla", "Pergaulanku dengan bla bla bla harus pakai mobil bla bla bla", "Aku dari keluarga bla bla bla harus belanja di bla bla bla, jenis makanan harus bla bla bla" menariknya gengsi membuat proses ajaib ini, yaitu SERING KITA MEMBELI SESUATU - YANG TIDAK KITA BENAR-BENAR BUTUHKAN - HANYA UNTUK BERGAYA KEPADA ORANG-ORANG YANG TIDAK KITA SUKAI. Hehe...

Minggu, 13 Februari 2011

GOMBAL VALENTINE

Valentine datang bersama detik,
Kangenku mulai memantik,
Kuingin katakan dengan tulus tanpa tak tik,
Kutak mampu belikanmu baju mahal dari butik,
Pun cokelat mahal dan mawar terbungkus plastik.
Karena ku tiba-tiba sembelit lagi rematik
Namun kucintaimu karenaNYA, Cantik.

#intermezo Valentine. Iseng. 13 Feb 2011

Sabtu, 12 Februari 2011

GURINDAM DAN SYAIR KEPRIHATINAN

GURINDAM

Ada perempuan bermimpi tamasya,
akhirnya ia mendapat kekasih yang tampan
Kepada tuan-tuan pemimpin agama,
Mohon tanamkanlah kasih dan tanpa kekerasan.

Raja Bali menancap dupa penuh cinta kalbu,
Namun malang membakar kain merah pemberian Raja Jawa,
Apalah arti aku menghapal kitab suci dan berdoa selalu,
Namun tetap senang terbakar marah lagi menyakiti manusia

SYAIR
Kemarahanku

Jika aku lagi marah hebat
lalu ingin cipta kekerasan bejat
Janganlah aku dibela Sahabat
Walau aku pemimpin yang kau hormat,
Nanti akalmu hilang dan sesat
Bersama denganku membela ego semu nan jahat.

#keprihatinan hati atas gejolak kekerasan di negeriku.
Kutak bisa berbuat apa, kecuali berdoa dan berdoa,
semoga kasih bermekaran di hatiku dan di setiap insan. Indonesia damai. 12 Feb 2011

Selasa, 01 Februari 2011

PERSIAPAN PERJALANAN



Kemanapun kita pergi,
ke tempat yang kita rencanakan,
ataukah ke tempat yang kita tak duga
Kita harus membawa cinta,
berlatih mencintai tempat tersebut,
apa adanya...
Agar di sana segalanya menjadi baik,
baik dari wajah, perasaan, percakapan..
sampai setiap keputusan kita.

                                                                         #Merenungi perjalanan, merenungi kediaman, 1 Feb 2011

Sabtu, 29 Januari 2011

SEBELUM TIDUR


Kutarik nafas ini,
kupejamkan mataku dengan lembut,
Kuhembuskan nafas ini,
kuletakkan semua beban hari ini
Kutarik nafas,
kukulum senyum kecil, syukur dan maaf,
tak ada dendam lagi,
rasa kalah, menang, suka, duka, atas, bawah,
kuterima sebagai skenario agung
Kuhembuskan nafas,
kutidur dengan lelap dan bebas.
#Coretan sebelum tidur, 29 Jan 2011

Kamis, 27 Januari 2011

SENYUM

Senyum obat mujarab
Ketika aku sedang jengkel
Kucoba senyum saat itu juga
Senyum dan perhatikan nafas
masuk
keluar
nafas masuk, kuhirup kebahagiaan
kuterbitkan senyum
nafas keluar,
senyumku merekah
melepas
bahagia
senyum...senyum...senyum
#Latihan 27 Jan 2011

Sabtu, 22 Januari 2011

MARAH, DIAM, DENGAR, CINTA

Jika kita memilih Ghrasta,
pasangan kita adalah sahabat untuk berlatih bersama,
berlatih mengelola segala rasa di kedalaman hati kita.
berlatih menatap, berucap, menyentuh dengan cinta.
Berlatih bersama untuk saling mencintai
mencintai sebagai wujud bhakti kepadaNYA

Jika marah itu datang
Saatnya berlatih diam..
Jika kita bisa duduk diam
dan mendengarkan pasangan kita yang diliputi marah
satu jam saja
kita bisa mengurangi banyak penderitaannya
Inilah cinta
Kita mendengarkan marahnya
Bukan untuk menyalahkannya pun menghakiminya
namun
karena kita ingin penderitaannya berkurang
karena kita begitu mencintainya.
#Curahan hati 22 Januari 2011

Minggu, 16 Januari 2011

BERSEPEDA


Kukayuh sepedaku,
menerpa mentari pagi..
kuhirup udara segar
kita mencintai alam,
alam pun menjaga kita.
#Baru punya sepeda seminggu, hehe 16 Jan 2011

Sabtu, 08 Januari 2011

AKU BENAR DAN YANG LAINNYA SALAH

Seorang anak muda dan pemandunya tampak mengunjungi suatu areal suci, dimana banyak tempat-tempat ibadat di sana.

Anak muda itu berkata kepada pemandunya "Paman, tempat ini tampaknya begitu relijius, banyak kepercayaan yang dianut, tempat ibadatpun seolah dibangun dengan berlomba-lomba, orang-orangnya memakai atribut agama yang begitu tampak agung, begitu banyak analisis keagamaan yang diprogramkan di daerah ini, ah.. Paman, tentu masyarakat di sini begitu mencintai Tuhan".

Sang pemandu sedikit merengut dan berkata ,"Saya tidak tahu Nak, entahlah... mungkin mereka tampaknya mencintai Tuhan, tetapi yang jelas mereka membenci satu sama lain, dan mereka masih suka menyalahkan dan berdebat dengan kepercayaan lainnya, seolah-olah kepercayaannyalah yang paling benar".

Anak muda itu tertegun di dalam hati, ia menemukan kata hatinya berkata "Bagiku mencintai Tuhan berarti mencintai Tuhan yang ada di dalam semuanya tanpa adanya kebencian dan prasangka. Menyebut ajaran sendiri paling benar kemudian menyalahkan dan membenci ajaran orang lain berarti aku sedang mencintai "konsep mencintai Tuhan" bukan mencintai Tuhan".

Kemudian ia pun tersenyum dan teringat dengan adik-adiknya yang masih kecil, yang bertanya kepadanya ketika ia mengajarkan beberapa sloka di dalam kitab suci "Kak, apakah dengan membaca kitab ini hatiku lebih damai dan penuh cinta?"

Oh anak muda itu tersenyum, kini senyumannya lebih dalam "Aku harus melihat ke dalam, apakah dengan kepercayaan ini, dengan pengetahuan ini, hatiku menjadi lebih damai, lebih bahagia, lebih bisa berbagi ataukah malah lebih suka berdebat kemudian membenci yang lainnya yang mungkin tidak tahu atau berbeda dengan kepercayaanku?"

Mari jadikan ajaran agama/kepercayaan kita menjadi tongkat untuk berjalan dalam mengembangkan kasih sayang bukan tongkat untuk memukul makhluk/orang lain.
Hanya orang yang dipenuhi kebahagiaan dan kedamaian yang bisa berbagi kebahagiaan dan memancarkan kedamaian.
-9/1/2011-

Minggu, 02 Januari 2011

SHIVARATRI BALI


Om Namah Shiva ya
Sahabat...
Esok
Selamat menjalankan sadhana Shivaratri
Semoga kita semakin merasakanNYA
Paling tidak
di dalam Ibu dan Ayah kita
sehingga cinta kita
kepada mereka yang terkasih
akan menjadi persembahan yang indah kepadaNYA
Om Namo Bhagavate Rudra ya

#menyongsong malam paling gelap, 2 Jan 2011

Sabtu, 01 Januari 2011

BERBAGI TIPS KETIKA MENJADI KETUA PANITIA PIODALAN

*Tulisan ini khususnya untuk sahabat yang beragama Hindu, atau dan umumnya, untuk sahabat yang selalu bisa mengambil hikmah di setiap bacaan.

Do not keep yourself apart, intent on your own salvation, through japa or dhyaana (chanting or meditation). Move among your brothers and sisters, looking for opportunities to help; but, have the Name of God on the tongue and the Form of God before the eye of the mind. That is the highest sadhana. God in the heart! Task in hand! Proceed in that spirit. God's Grace will be showered on you, in full measure - Sathya Sai

Janganlah engkau mengasingkan diri dan hanya memikirkan keselamatan dirimu sendiri dengan melakukan japa atau dhyana (pengkidungan nama-nama Tuhan atau meditasi). Terjunlah ke tengah-tengah masyarakat, dan carilah kesempatan untuk memberikan bantuan; ditambah dengan praktek pengulangan nama-nama Tuhan di lidahmu serta memelihara wujud-Nya di mata batinmu. Inilah bentuk sadhana yang paling tingi, yaitu Tuhan di dalam hati dan pekerjaan/seva di tangan! Majulah dalam semangat itu, maka dengan demikian, Rahmat Tuhan akan dicurahkan sepenuhnya kepadamu.

Bagi kotomi pandangan saya, kita adalah bagian dari masyarakat, pengertian ini menggiring pemahaman bahwa adalah sebuah swadharma (kewajiban kita) untuk mengabdikan kehidupan kita untuk kesejahteraan masyarakat. Kemudian pemahaman akan pengertian ini menggiring kita untuk ikut terlibat dalam kegiatan masyarakat baik yang bersifat umum maupun adat.

Sebagai seorang anak muda Bali perantau, tentu berkumpul dengan sesama suku Bali seperti menemukan sebuah naungan payung komunitas dalam mewarnai hari-hari. Di Kupang, saya sendiri yang kebetulan tinggal di suatu rumah dinas BUMN Penerbangan di Indonesiam dan karena wilayah yang saya diami ini berada di daerah penfui maka saya menggabungkan diri dengan suatu tempek (kelompok masyarakat Hindu) yang bernama Tempek Kopeta, Kopeta singkatan dari wilayah yang dinaunginya yaitu area Walikota, Penfui dan Baumata.Di Kopeta telah berdiri sebuah Pura sebagai sarana memuja Hyang Widhi dan sarana berkumpul umat Hindu di wilayah Kopeta yang bernama Pura Luhur Akasa. Singkat cerita baru 1,5 tahun di sini dan baru beberapa bulan aktif sebagai anggota, saya dipilih secara aklamasi dalam arisan tempek untuk menjadi Ketua Panita pada Piodalan Pura yang jatuh pada Anggara Kasih Medangsia, 28 Desember 2010.

Menjadi Ketua Panitia dengan umur yang relatif jauh lebih muda dari masyarakat Hindu di sini umumnya ditambah baru aktif di wilayah masyarakat Kopeta menjadi sebuah tantangan tersendiri ketika harus memanage upacara yajna di suatu Pura.

Ijinkanlah saya berbagi, langkah-langkah sederhana yang saya lakukan dalam persiapan merayakan Piodalan Pura Luhur Akasa Ini adalah :
1. Mendekati para pinisepuh tempek, untuk merinci rencana mengundang umat untuk bersama-sama mempersiapkan sarana piodalan. Waktu untuk persiapan disepakati tanggal 24, 26, dan 27 Desember 2010.
Waktu tersebut kemudian dipilah, kapan membeli bahan-bahan Piodalan (banten, caru, dll), dan kapan "mengolah" bahan-bahan tersebut.

 
gb.1.Pemuda-pemudi Tempek Kopeta.

2. Umumnya mempersiapkan acara, maka selanjutnya adalah membuat panitia. Saya membaginya dengan bagan organisasi sederhana saja yaitu Ketua, Sekretaris, Bendahara, dan Seksi-seksi.
Pada tahap awal, sekretaris akan bekerja keras dalam pembuatan surat-surat baik bersifat pengumuman, undangan dan proporsal penggalangan dana. Sedang Bendahara bertugas di awal sebagai penggali dana, mengumpulkan dana, dan membuat arus pemasukan dan pengeluaran dari persiapan sampai puncak acara.

Di bagian seksi, saya bagi yaitu seksi upakara (bertanggung jawab tentang banten dan segala pernak-perniknya), seksi konsumsi (bertanggung jawab tentang segala macam konsumsi yang harus disediakan saat persiapan maupun hari H) , seksi perlengkapan, seksi transportasi dan seksi acara.
a. Seksi Upakara, seksi ini sebaiknya diisi oleh wanita dan pria yang paham tentang rentetan persembahan pada upacara Piodalan. Wanita (bisa mendekati istri dari Pinandita/Jro Mangku atau yang sudah biasa membuat banten) untuk mengkordinir para Ibu-ibu yang akan membuat banten, pajegan, dan berbagai persiapan lain yang umumnya dibuat oleh Ibu-ibu. Dan masukkan juga pria yang nantinya akan mengkordinir para Bapak dalam pembuatan caru dan sarana persembahyangan lainnya seperti sanggah surya, penjor, hiasan Pura, dan lain-lain.
b. Seksi Konsumsi, ini pun sebaiknya diisi oleh pria dan wanita sebagai "person incharge" dimana yang wanita akan merekrut para anggota wanita sebagai penyaji, dan yang pria sebagai sang koki (umumnya memang pria yang bertugas memasak di dapur Pura).
c.  Seksi Perlengkapan, ini bisa diisi oleh kaum muda dimana umumnya mereka penuh semangat, silahkan dekati organisasi muda-mudi untuk membantu kita mempersiapkan segala sarana dan prasarana. Buat daftar barang-barang yang mesti dipersiapkan seperti : gong, instalasi penerangan tambahan, wastra pelinggih, dekorasi Pura, sound system, dan lain-lain. Minta juga sang person incharge di bidang ini untuk bersinergi dengan seksi-seksi lain, sekiranya ada daftar barang yang belum ada di list untuk kemudian disiapkan.
d.  Seksi Transportasi, person incharge di seksi ini bisa diisi oleh orang-orang yang memiliki sarana transportasi. Tawarkan dengan lembut kesempatan berdharmabhaktikan kendaraannya untuk piodalan. Kendaraan ini akan mendukung penyediaan sarana yang dilakukan oleh seksi-seksi lainnya.
e. Seksi Acara, seksi ini benar-benar bisa dikatakan menjadi ujung tombak pelaksanaan setelah seksi upakara. Seksi ini akan mengatur secara teknis seperti persiapan penari tarian sakral (seperti Tari Rejang, Topeng Sidakarya, dan lain-lain) purohita/pemimpin yajna, pendharmawacana, teknis rangkaian acara, pengidung (penyanyi kidung), dan lain-lain.

 
Gb2. Para Pinandita yang memimpin rangkaian Piodalan

Tips-tips teknis :
1. Mendekati kemudian bersinergi dengan tokoh masyarakat tempek/banjar dalam mempersiapkan piodalan.
2. Membentuk panitia secepatnya setelah kita dipilih dalam rapat masyarakat menjadi ketua panitia.
3. Umumkanlah kapan umat kita ajak untuk ngayah (bekerja bhakti) sebanyak-banyaknya. Gunakan waktu Persembahyangan Purnama dan atau Tilem di Pura untuk berkomunikasi dengan masyarakat, gunakan juga papan pengumuman di setiap Pura sebagai sarana komuniakasi, selain juga sarana komunikasi masa kini seperti sms, email dan jejaring sosial.
3. Hal-hal yang bisa dipersiapkan tanpa menunggu hari H kerja bhakti sebaiknya dipersiapkan seperti penggalangan dana dengan proporsal ke instansi-instansi dimana ada umat Hindu yang bisa dititipi, penggalangan dana kepada masyarakat tempek sendiri (bisa memakai sistem dana wajib dan sukarela serta sepakati berapa dana wajib yang mesti dibayarkan oleh masyarakat), undangan kepada masyarakat Hindu baik di tempek dan banjar lainnya tentang tanggal-tanggal pelaksanaan ngayah dan piodalan, dan para penari. Kerjasamalah dengan apik dan selalu mengecek daftar list "to do" di masing-masing anggota panitia.
4. Tukang masak, pembuatan banten dan caru, carilah orang yang benar-benar tahu dan bertanggung jawab.
5. Bentuklah kelompok pengumandang kidung suci, siapkan beberapa sound sistem untuk mendukung penyanyian gita dan kidung suci. Fotocopy teks kidung kepada umat sehingga pada saat piodalan, umat bisa ikut mengikuti, wah.. suasana kebersamaan menyanyikan kidung pujian ini akan benar-benar menggetarkan hati.
6. Selalu bersinergi dengan seksi-seksi, terutama seksi acara. Pilih pembawa acara yang memang teruji kualitasnya. Persiapan upakara, indahnya tari-tarian, sakralnya upacara akan "tampak" hancur lebur jika pembawa acara gagap dan grogi dalam membawakan acara.
7. Untuk tari hiburan, selipkan filsafat arti Piodalan atau makna spiritualitas bisa dalam bentuk hiburan topeng, wayang, dan lain-lain. Ini kadang lebih terserap dalam perhatian masyarakat Hindu daripada dharmawacana.

 
Gb.3 Saya selalu senang berada di sekitar Pinandita,
melayani kebutuhan beliau bila diperlukan.

Demikian tulisan "sok tahu" ini, hanya sebuah tulisan berbagi dimana penulis pernah ditunjuk menjadi Ketua Panitia Piodalan. Menjadi ketua panitia piodalan sedikit lebih unik, rumit daripada menjadi ketua panitia acara formal, disamping karena berkaitan dengan adat istiadat Bali, pun usia penulis jauh lebih hijau daripada masyarakat yang kita "pimpin".Masyarakat begitu beragam, pilihlah orang yang benar-benar memiliki niat ngayah (dharmabhakti) kepada Ida Sang Hyang Widhi, tentunya dengan pertama kalinya mematrikan semangat tersebut di dalam hati kita.

Manava Seva Madhava Seva, pelayanan kepada manusia adalah pelayanan kepada Tuhan.

Senin, 25 Oktober 2010

BERPULANGNYA AYAH DAN PERJUANGAN IBU

Diary perjalanan, untuk mengenang Ajik dan mengingat selalu perjuangan Ibu.

25 Oktober 1993 – 25 Oktober 2009
Sebuah Cerpen Hati yang tak lekang oleh waktu.
Namaste Astu Bhagavan Vishveshvaraya Mahadevaya
Tryambakaya Tripurantakaya Trikagni Kalaya 
Kalagnirudraya Nilakanthaya Mrutyunjayaya 
Sarveshvaraya Sadashivaya Shrimanmahadevaya Namaha 

Hari ini kami akan mengalungkan bunga di fotonya untuk sekian kalinya. Kami persembahkan arathi kemudian mencakupkan tangan sbg tanda kami sll mencintainya.

25 Oktober 1993
Aku berlari kecil dari Jro Beduran, sambil memegang tamia di tangan kecilku, waktu itu bersama Dode Resta. Aku lihat sepupuku Gek Devi menangis, sbg anak kecil yg baru menginjak kelas lima SD dmn emosi masih sj mendominasi, aku pun bertanya “Ada apa Dik? Siapa yg ganggu?kok nangis?siapa yg ganggu, bilang sj.” Teman2 kecilku pun memandangku dg tatapan kosong, seolah ingin mengatakan sesuatu yang ditahan, aku masih tidak mengerti, kemudian aku melayangkan pandanganku ke Jro Betenan...lho banyak orang, masyarakat berkumpul sampai di gerbang depan.

Entah tb2 aku berpikir tentang Ajik...”Ajik, gimana skrg keadaanmu di rumah sakit, adakah berita buruk, ada apa ini, kenapa semua berkumpul?”. Aku berlari, aku teriak dg suara anak kecilku seolah mendapat firasat
“Ajik Dode gimana? Kenken Ajik?”.
Lagi-lagi aku mendapat tatapan yang kosong, aku digendong oleh seorang kerabat
“Oh, niki Dodenya, niki Dodenya (Oh, ini Dode, ini Dode)”,
aku diangkat menuju sebuah kamar...kamar itu terasa gelap,
hatiku masih bertanya “Ada apa ini?”.
Di kamar itu beberapa Niang (Nenek), dan Biang2(Bibi) berkumpul, mereka memelukku,
“Ajik....Dode, Ajik....Dode..”
aku membalas “Kenapa Ajik, kenapa Ajik, Niang, Biang Tut, Biang Man...ada apa dg Ajik? Apakah Ajik sudah sehat?”.
Aku tanya mereka satu per satu, tp setiap aku tanya dg suara kecilku justru menambah tangisan mereka, oh perasaanku sdh tidak menentu. Aku menutup mataku dg kedua tanganku sambil bilang
“Sai Ram.... Sai Ram”.

Kemudian Niang Koh pun bilang sambil memelukku erat, mencoba menguatkan diri beliau bilang ,
”Dode berdoa untuk Ajik ngih, smg Ajik sehat”.
Seolah mendapat air di gurun pasir, aku menepiskan perasaanku bahwa Ajik meninggalkan kami semua,”Baik Niang”, aku pun mulai berdoa, entah kemudian aku menangis...aku tahu doa ini tidak akan berguna lagi.

Beberapa paman tanpak bilang “Biarkan Dode nangis....jangan ditahan”. Kemudian Wide Oka datang dengan pakaian seragam SMUnya dan memelukku, kakak sepupu dalem yg paling tua itu pun bilang “Ajik akan muncul dari langit, menunggang garuda”. Aku masih ingat semuanya. Karena ucapan Wide, aku pun mulai mengerti...mungkin Ajik telah pergi walaupun jujur, aku masih bimbang.

Karena kebersamaan di sebuah desa masih begitu kuat, rasanya rumah kami waktu itu begitu sesak, oleh keluarga besar, masyarakat yg aku tidak mengerti mengapa berjejalan di halaman rumah. Akhirnya suara sirene ambulan datang, tangis semakin membuat aku bingung, keluarga semuanya berlari keluar, aku ditinggal tak mengerti apa2, aku coba menyibak kerumunan orang di luar kamarku dengan tangan kecilku seperti menyibak kerumunan orang di sebuah konser.Tidak ada yang memperhatikanku, smuanya seolah ingin berebut mencari sesuatu.

Aku terus teriak diantara tangisan, seolah mengerti bahwa Ajik telah datang,
aku teriak ”Dode ingin lihat Ajik, Dode ingin lihat Ajik”,
aku tenggelam dg tubuh pendekku diantara tubuh orang dewasa, astungkara, seorang yg tidak aku ingat siapa, bersedia mengangkatku dipanggulnya sambil bilang
“Oh Dode, mriki mriki (Oh Dode kesini-sini)”.
Maka aku dengan jelas melihat rombongan keluargaku keluar dari kori tengah.

Yang pertama, pamanku Ajimang Juanda, beliau kelihatan berjalan sempoyongan, sungguh seperti orang mabuk, habis itu Ajitu Sastra yang terlihat begitu sedih dan beberapa kerabat, dan terakhir...tentu saja Ajik, namun wajah Ajik tak terlihat, sekujur tubuh Ajik sudah diselimuti kain batik, dipanggul oleh empat orang, jalannya cepat menuju Bale Gede. Beberapa anggota keluarga memang tidak terima, ada yang teriak, dan maaf memukul tembok, suasana waktu itu, smg tiada seorangpun di dunia ini yang mengalaminya. Apapun yang terjadi Ajik telah pergi, beliau tak akan kembali.

Entah air mataku berhenti, “Svami, Ajik pergi...Sai Ram, Ajik telah pergi, kuatkan aku...”, aku terus berjapa seperti yang diajarkan guru-guru rohaniku/Balvikasku di Veteran, Sairam...Sairam, aku terus menyebut nama Tuhan. Aku memandang jenasah Ajik yang diangkat menuju Bale Gede, kemudian paman yang mengangkatku tadi mau pergi menuju bale gede juga, tapi aku teriak
“Dode ingin ketemu Ibu, mana Ibu...mana Ibu, mana Ibu!”.

Yang memanggulku pun mencari, dibantu oleh beberapa paman, sambil bertanya tanya, dan kami berhasil, aku turun. Aku bengong mematung, Aku lihat Ibu tergolek lemas duduk memeluk Adek, wajahnya kelihatan sangat kusut, ini pertama kali aku melihat Ibu berwajah demikian, adikku yg masih kecil, membenamkan wajahnya di pelukan Ibu. Tanpa pikir panjang, aku memeluk Ibu yang sedang dipijit oleh beberapa semeton (saudara), “Ibu...ibu”, Ibu tak mengacuhkanku, tatapannya kosong, wajahnya kusut, Ibu begitu sangat sangat terpukul, Ibu seolah tidak merasakan pelukanku, Ibu seolah lupa mempunyai aku, Ibu seolah tidak merasakan betapa aku rindu beliau karena sudah beliau tinggalkan beberapa hari di rumah sakit melayani Ajik. Dan sebuah episode baru yang teramat berat akan kami lalui...bertiga, hanya bertiga. Seorang Ibu muda, anak kecil ingusan dan seorang balita. Sesaat setelah itu, tepat ditanggal itu, Ibu menyatakan janjinya yang selalu kami kenang,

”Tiang (saya) tidak akan menikah lagi, tiang akan membesarkan kedua anak ini sendirian”.

Sebuah ucapan dari seorang Pativrata.....yang sampai sekarang masih teguh dijalankan, dan beliau telah sukses dengan pengertian sesungguhnya.

============ (bersambung)...

Ayah

Kutatap wajah lembutmu Ayah..di antara tangis pilu keluarga
Tersirat apa yang telah kini terjadi
kutahu dirimu kini berkata dalam bisu "Selamat tinggal.."

Keluarga dirajut mendung.. satu nafas telah gugur
Kucoba jabat tanganmu
namun kutahu semua telah berakhir
tapi kutak rela lepaskanmu
dan mulut kecilku hanya diam membisu

Kusujud di kakimu sambil berkata
"Bangunlah Ayah..."
"Kurindu pimpinanmu,
kecupan pagimu dan berkata , "Sembahyang yuk"

"Ayah ... betapa berat beban karma ini"
"Ayah bangunlah, lihatlah lautan manusia ini, begitu banyak yang mencintaimu..."
Tapi thirta yang mengalir menyucikan tubuhmu
menyentakkanku bahwa kini semuanya tiada

Samar wajah kami dirundung duka..mendung dan gelap
langkah begitu berat menuju perabuanmu...
titik hujan menerpa seakan langit pun menangisi nasib kami
namun garis wajahmu tetap lembut tercipta mengucap "Selamat tinggal.."

Satu orang Ibu dengan sumpah brahmana karena kepergianmu...
Seorang anak kecil nakal ingusan dan satu bayi cantik yang baru belajar berjalan..
mencoba tabah untuk menggenggam api suci bersama...
mengembalikanmu kembali ke cahaya
"Ayah.. ini api cinta kami..., selamat tinggal"

Meski gontai langkah ini
Meski hancurnya hati
Meski beratnya beban ini
Cinta tak akan usai..Ayah
Kutahu kutak sendiri... bimbinganmu akan selalu ada

Ayah, selamat tinggal...
bawalah selalu cinta kami, jemputlah impianmu..
Moksa...

"Dibuat di Batam, Oktober 2008,
15 tahun Samadhi, Ida I Aji kami, Ida I Dewa Made Umbara S.,
25 Okt 1993, pukul 11.40"

Saya rasa semua kitab suci mengagungkan orang tua. Veda menyatakan kedudukan orang tua dengan kata-kata “Mathru Devo Bhavo, Pithru Devo Bhavo” (Orang Tua/Ayah dan Ibu adalah perwujudan Tuhan), dharma kepada orang tua adalah yang utama, karena waktu di dunia tidaklah abadi, maka setiap waktu bertemu adakah waktu yang utama.

Oh Sahabat, ijinkan sy berbagi nasehat dg rendah hati, mari kita ingat selalu bahwa waktu di dunia bukanlah kita yang mengatur, smg kita semua mampu menjalankan kewajiban kita, pelayanan kita dg sempurna kepada orang tua kita.

Saya membungkuk dan mencakupkan tangan untuk semua Ibu yang berani memilih menjadi seorang “Ardhanaresvari”, peranan ayah dan ibu sekaligus bagi anak-anaknya dalam satu tubuh, 16 tahun sudah, dan Ibu melalui kasihnya telah menghadirkan seorang ayah bagi kami. Kami akan meneruskan kepemimpinannya.

Dengan penuh cinta,
Dode Yoga
Gek Yanti
Putra pertama dan kedua (Umbara Suta)
dari Ajik (almarhum) Ida I Dewa Made Umbara S.
dan Ibu Dra.Desak Ketut Triari Umbara, MM

Kamis, 02 September 2010

SAYA DAN NASIONALISME MASA MUDA

# Saya mengingat pengalaman ini ketika berbagai berita protes terhadap negeri-negeri tetangga. yang konon melanggar kedaulatan negara. Saya menghormati setiap rasa, emosi dari teman-teman, namun tentu boleh berbeda dalam menyikapinya, saya merasa dalam tataran politik tentu ada "kerenggangan" itu, tapi dalam tataran bermasyarakat, warga berhak selalu bersahabat dengan sahabatnya walau ia warga "asing". 



Saya dan Nasionalisme Kecil-kecilan Saya
(Diary Sederhana Masa Muda)

Beberapa tahun lalu, di perusahaan saya yang dulu, saya dipercaya mewakili perusahaan untuk meeting di suatu perusahaan di negara tetangga, untuk mengecek sistem yang akan dibeli oleh perusahaan saya.  Saya berangkat sengaja mengambil fery yang paling pagi dari Batam, walaupun meeting diagendakan jam 10 pagi LT (local Time), ini hanya untuk menghindari antrean di keimigrasian dan biasanya jeda waktu saya gunakan dulu untuk singgah ke cabang perusahaan di negeri tetangga, kemudian mengobrol ria dengan kolega di negara tersebut, keliling area perusahaan, sekedar membaca koran lokal di sana dan membaca majalah dinding perusahaan yang biasanya penuh ide-ide pengembangan produktivitas, ini kali sekian saya ke negara ini, negara yang bebas macet, bersih dengan udara yang sangat sejuk.

Tiba di pelabuhan negara tersebut, seperti biasa kita antre di keimigrasian, terlihat beberapa orang Indonesia masuk ke ruang imigrasi khusus, mungkin ada masalah pikir saya, memang terkenal keimigrasian negara ini ketat. Setelah paspor saya distempel, saya melangkah dan kemudian memasukkan bawaan sederhana saya berupa laptop, dokumen dan kamera di x-ray dan ...upss dimulailah episode ini.

Seorang berpakaian preman dan gagah bilang ke saya agar membuka barang bawaan saya, saya menatapnya kemudian berkata “Maaf, Anda siapa?”, ia menatap saya tajam “ Police!” dengan mengibaskan jaket hitamnya, dan terlihatlah senjata yang menggantung di ketiaknya, wow ulah seperti ini sudah saya dapatkan selama hampir 3,5 tahun di almamater saya dulu, saya menatapnya dengan baik. Tapi sepertinya ego kepemudaannya masih menguasai “Anda tidak percaya saya Polisi?” kemudian ia memperlihatkan dompetnya yang ada lencana Polisi. Oke, saya nurut, ternyata preman police ini tahu etika pemeriksaan, ia meminta saya sendiri membuka setiap kantong tas. Ternyata tidak sampai di sana, ia meminta saya untuk ke ruangannya, wah mulai deh “Super Saiya” saya terasa menyelimuti hati, saya sempat berpikir mengapa saya yang tidak bawa barang terlarang dibawa ke ruangan Polisi? merasa terganggu dan dicari-cari kesalahannya, saya mulai berkata tegas,
“Kenapa Anda ingin membawa saya, Pak?”

“Kami ingin memeriksa Anda, apakah Anda adalah pecandu narkoba atau tidak?”
(ia menggunakan kata You, tidak sekali pun mengakhiri kalimat dengan Sir, mata muda saya menangkap ini sebagai ketimpangan “sor singgih” (tingkat bahasa), padahal itu hal yang lumrah, sangat lumrah (tidak ada tingkat bahasa). Waktu itu memang kebahagiaan di hati ini masih tergantung hal-hal eksternal (luar), seperti peristiwa ini.

Saya larut dalam ego, udara segar negara ini mulai terkontaminasi dengan tatapan mata mereka, ego mulai berpura-pura menjadi diri saya dengan mengatakan “Kamu dilecehkan, lihat tatapannya, kamu bisa menelp kolega2 kamu skrg, dan bilang ada polisi aneh yang menangkapmu!”. Sang ego mulai berkata “Mana mungkin badut ancol gemuk seperti kamu dikira pecandu narkoba, mereka itu mengada-ada! Dia menangkapmu krn kamu Indonesia, kamu dipandang lebih rendah dari warga lain, inget Bung Yoga kakekmu semuanya pejuang, kamu lahir dari keluarga pejuang, kamu dilecehkan!”. Si ego memang ahli mengidentifikasikan sesuatu menjadi diri kita.

Dan saya mengambil HP saya dimana di area ini memang tidak diperkenankan untuk menelp, dan tentu saja Polisi Berjins biru ini mulai emosi “Hei, don’t use mobile phone, don’t use mobile phone”.
Saya mengatakan dengan Sing-lish sy “Oke, don’t be mad, i have some important meeting today , so i must call my colleague first to delay my meeting, and than i will follow you to ur office, but please tell me WHY ONLY ME!” saya menaikkan nada bicara saya.

Ternyata mereka mulai berpikir ketidak adilan ini (mungkin), sambil bibirnya komat kamit mirip pantat ayam menceramahi saya bahwa di area keimigrasian very strict (!) tdk boleh menggunakan HP dan camera! Mereka kemudian mengambil 2 orang lagi yang saya lihat dari wajahnya adalah dari negara yang sama dengan saya, Indonesia, tampak orang-orang ini begitu kikuk karena tanpa babibu mereka disuruh ikut ke kantor si Rambo berkulit putih bukan karena panu ini. Mereka mengatakan “We take random samples”. Oh hal ini tidak membuat saya tambah lembut, RANDOM? RANDOM PALA LU GORILA! Ego saya berulah lagi, mereka bilang random tetapi hanya memeriksa orang Indonesia, orang yang kulitnya lebih putih dari saya, rambutnya lebih keriting, lebih lurus dan kuning dari saya dibiarkan lenggang Mbok Jamu!

Saya lebih tegas dalam berkata “OKE U SAID RANDOM, WHY ONLY INDONESIAN PEOPLE??, WE ARE NOT STOWAWAYS!” rupanya mereka mulai sadar bahwa saya ini adalah orang yang keras terlihat dari wajah saya yang keras mirip adonan aspal salah campur ini. Saya jelaskan dengan menatap matanya “I tell you-aaa (ini dialek singlish ada aaa), please take note-aaaa (ini kata yang artinya, Hei, sy kasi tahu kamu yaaa, catat yaaa!!!)in MY BIG COUNTRY (tentu negara saya lebih besar dan luas dibanding  negaranya yang hanya sebesar pulau), if any inspected by our policement in airport or harbour, they check all passengers not randomly!”.

Teman Indonesia yang ikut ditangkap dengan saya terlihat keluar keringat, ia berbisik “Saya bisa telat”, dan orang-orang mulai melihat saya yang mengacungkan jari telunjuk (bukan jari tengah ya) ke arah polisi ini. Temannya Polisi galak itu yang semula diam, kemudian mengambil orang asing satu lagi, tentunya dengan komunikasi yang alot. Nah, karena yang “ditangkap” bukan saja saya dan tidak hanya orang Indonesia, tentu giliran saya yang manut apa kata mereka, jadi ada 4 orang yang dicek, 3 orang Indonesia dan 1 orang asing.

Ternyata memang benar, saya dibawa ke ruangan kecil. Mulai terlintas di benak saya, kalau sampai mereka mengada-ada, dan menyatakan saya bersalah (seperti di film-film action), saya akan blow up masalah ini di media, saya tdk merasa bersalah, dokumen saya lengkap, surat dari perusahaan juga ada, dan yang terpenting saya bukan pecandu obat-obatan. Saya mulai menghitung beberapa teman yg juga akan sy kompori untuk membela sy jika ada sedikit pelecehan dan kata-kata kasar. Saya duduk di ruangan kecil itu, dengan pencahayaan yang kurang baik (mungkin lagi hemat energi), saya ditanya oleh wanita yang jaga,
“Thank you for your time Sir, we would like to check your urine to confirm whether you are person who is addicted drugs or not”.
Oh lumayan mereka memakai kata Sir dan would like, pikir sy, sy diberikan botol, kemudian diminta pipis, pipis pun diantar oleh polisi galak tadi dan pintu toilet tidak boleh ditutup. Wow apakah polisi yang mengantar saya ini seorang gay? shg ia rela mengantar saya ke toilet dan menunggu saya pipis, jangan2 dia meminta saya menggoyang pantat saya? Oh ternyata ini bertujuan agar tidak ada orang yang menukar urinenya untuk diperiksa, dia hanya berdiri di pintu, tentu tidak mengintip, kesucian saya terjaga. Singkat kata kami kembali membawa urine untuk dipersembahkan kepada polisi asing itu untuk diminum (ya nggak lah), selama proses lab, saya duduk di depan tiga orang Polisi, satunya adalah yang paling galak saat razia tadi. Selama menunggu hasil, saya memilih memejamkan mata, menarik nafas dengan baik, karena rasa marah ini masih ada, saya ingin diliputi kedamaian dan memutuskan untuk selaras dengan saat ini, ya saya harus menerima dan bisa menikmati ‘saat ini’.

Rupanya sikap saya ini menarik perhatian mereka, setelah semenit memejamkan mata, saya buka buku dan membaca meeting point yang akan saya bahas nanti. Mereka mulai bertanya,
“Tahukah Bapak tempat mana yang tidak ada pecandu narkobanya di dunia ini?”
“Tentu ada”, saya mulai lembut.
Mereka tertawa, mereka bilang “Haha, sekarang semua tempat pasti ada pecandu narkobanya, hahaha”.

Dasar geblek, mereka pasti belum pernah ke kandang BABI mendiang Nenek saya rupanya. Tentu BABI-BABI itu tdk pecandu narkoba dan kandang BABI itu adalah tempat yang bebas dari narkoba. Itu contoh kecil dari berjuta tempat yang bebas narkoba.
Saya bilang “I am from Bali, my dear grandma has one pigsty, and you can check her pigs’s urine whether they are junkies or not, the pigsty is a place that clear from junkie”. Kami mulai tertawa... saya melanjutkan “There is some place that no junkie, no bad habit, only happiness and peace, in here”. Saya memegang dada saya dan dengan seluruh jari saya menunjuk dada mereka (kecuali yang polisi wanita) .”If we can see inside and from inside, we know, love is our form”. Mereka tersenyum, mungkin mereka berpikir dalam hati mereka “Aembeh... badut beruang kutub, bilangnya love is our form-love is our form, kenapa tadi galak saat mau diperiksa? dasar calo spiritual lu, ngomong beda sama tingkah laku!”.

Mulailah encer komunikasi kami, kami mulai tertawa bersama, hasil mulai dibagikan berupa print mirip struk kasir, dan kami menandatangani suatu form dan di samping kiri saya beberapa polisi memborgol orang asing yang “terjerat” bersama kami, sedang 3 orang Indonesia bebas narkoba, Polisi galak itu mengatakan urine orang (bapak yang tertangkap) itu positif mengandung narkoba. Saya mulai bercanda “Wah Anda hebat bisa tahu, apakah kalian mencicipinya?” dan pertanyaan saya ini dibalas oleh polisi galak ini dengan tawa sambil menunjukkan gelang Om Kar-nya, saya terkejut ia memakai Om Kara Bali,
dia bilang “Anda dari Bali, ini saya dapat ini di Bali, Anda seorang yang keras, maaf atas ketidaknyamanan selama pemeriksaan, terimakasih sdh mengisi data kami”.
Saya bilang “Ah don’t mention it, saya keras karena tadi tersinggung, saya kira Anda mengecek hanya orang-orang Indonesia”,
mereka bilang “Oh tidak, justru  karena Anda tersinggung (pique) saya dapat seorang junkie”,
saya pun sportif  ”Saya juga minta maaf”,
dia bilang “Untuk apa?”
Saya bilang “Saya telah salah sangka tentang Anda”.
Dia menjawab dengan hangat “Oh ya, never mind, saya tidak pakai uniform, tidak apa-apa Anda menyangka saya bukan polisi”,
saya menjawab ”Bukan itu”,
“So?” kata Polisi galak yang sdh jinak ini.

Saya melanjutkan“Saya minta maaf karena dalam hati, saya telah menyangka Anda gay ketika Anda ikut ke toilet bersama saya tadi”.

Dan saya percaya semua orang, di semua negara, apapun kulitnya, ada kasih di dalam hatinya.
===========================================================================
Diary ini saya persembahkan :
-Untuk sahabat-sahabat mudaku yang selalu bangga dengan ke-Indonesia-an-nya, sll mengembangkan diri, merasa berdiri sama tegak dengan negara lain dan tidak gentar terhadap persaingan internasional.

-Untuk Indonesia.
===========================================================================
Unity is Divinity,
Dewa Vayogayana